Rabu, 14 Juni 2017

Fayakhun Andriadi: Ide Kemunculan Internet

Fayakhun Andriadi, Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, adalah anak keempat dari 5 bersaudara pasangan Ir. Haditirto Djoyodirdjo dan Etty Artiadi. Fayakhun berasal dari keluarga pekerja keras. Di usia 23 tahun, ia mengabdikan diri sebagai dosen jurusan Elektro, Fakultas Teknik Universitas Semarang. Politisi muda yang sekarang menjadi anggota DPR RI ini semenjak kecil telah terbiasa berprestasi dan mengikuti berkembangan zaman. Selain sibuk di dunia politik, Fayakhun masih menyempatkan diri berbagi pemikiran melalui tulisan-tulisannya. Beberapa tulisannya membahas mengenai “teknologi” yang menjadi salah satu bidang keahliannya.
Fayakhun Andriadi: Ide Kemunculan Internet


Dalam salah satu bukunya yang berjudul “Demokrasi di Tangan Netizen”, Fayakhun Andriadi menyebutkan bahwa internet adalah ikon era teknologi digital.

Menurut Fayakhun, internet saat ini menjadi salah satu hal yang paling digandrungi oleh masyarakat di semua lapisan tanpa terkecuali. Istilah satu ini sangat populer, hampir tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak mengenal arti dari kata internet. Namun, mungkin di antara sekian banyak pengguna, sangat sedikit yang mengetahui bahwa ide tentang internet lahir dari sebuah Kementerian Pertahanan. Salah satu institusi yang sifat organisasinya sebenarnya bertentangan dengan ide diciptakannya internet.

Seperti sudah disampaikan fayakhun andriadi pada paragraf di atas, kemunculan teknologi internet berasal dari dua hal yang sebenarnya kontradiktif dan menjadi sebuah paradoks. Kementerian Pertahanan sangat menekankan pentingnya kerahasiaan di segala bidang, termasuk alur informasi yang diajlankan. Kementerian Pertahanan dalam mejalankan tugas sangat menekankan prinsip keamanan, kerahasiaan, kehati-hatian, dan terkesan serba tertutup. Sebaliknya, sifat internet mengandung unsur serba terbuka, tak ada rahasia, serta rawan sekuritas. Jika direnungkan lebih jauh, bagaimana mungkin dua hal tersebut bisa bersatu? Ibarat api dan air, masing-masing memiliki sifat yang jauh berbeda, bahkan bisa dibilang saling bertentangan.


Tetapi, seperti itulah faktanya. Inisiator internet adalah Kementerian Pertahanan Amerika Serikat. Peristiwa kemunculan internet yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan Amerika Serikat ini dimulai pada tahun 1970. Pada saat itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat khawatir sekali pada potensi serangan nuklir terhadap jaringan komputernya. Jika itu sampai terjadi, habislah seluruh basis data yang sudah susah payah mereka kumpulkan dan mereka simpan. Padahal, data tersebut merupakan “nyawa” mereka. Akhirnya muncullah ide untuk menciptakan sebuah interconnected web antar jaringan komputer supaya setiap komputer dalam bisa saling “berkomunikasi”. demikian fayakhun andriadi melaporkan.

Rabu, 07 Juni 2017

Fayakhun Andriadi Pesan Jangan Hanya Jadi Tukan Stempel Pemerintah

Menurut Fayakhun Andriadi komisi I sekarang ingin berbuat lebih baik dalam masa pengabdiannya. Jangan sampai hanya menjadi “tukang stempel” pemerintah. Tapi, bagi Fayakhun Andriadi harus benar-benar menjadi mitra pemerintah dalam menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Karenanya, menurut Fayakhun Andriadi Komisi I membahas setiap persoalan, secara detil, teliti, dan berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara secara konsisten.
Sisi Pengerjaan Upgrade menurut Fayakhun Andriadi.

Fayakhun Andriadi Pesan Jangan Hanya Jadi Tukan Stempel Pemerintah


Bagi Fayakhun Andriadi komisi 1 juga menyampaikan pemikiran : untuk memberdayakan kemampuan engineering Dalam Negeri, bagaimana bila proses Falcon Star dan Upgrade Block, dilakukan di wilayah Republik Indonesia? Sehingga, lanjut Fayakhun Andriadi terjadi proses pembelajaran dan transfer of technology yang bisa diserap oleh bangsa Indonesia. Kalau proses Falcon Star dan pelaksanaan Upgrade sepenuhnya dilakuka di Amerika, komisi 1 menganggap tidak ada nilai lebih yang signifikan buat industri pertahanan Dalam Negeri.

Ini bagian dari komitmen Komisi 1, kata Fayakhun Andriadi untuk mendukung pemberdayaan terhadap teknologi dan industri dalam negeri dalam menuju kemandirian alutsista. Pengerjaan upgrade-nya harus dilakukan di Indonesia dengan supervisi dari pihak produsen utama. Kami di Komisi I mengetahui bahwa anak-bangsa kita mempunyai potensi dan kemampuan untuk di bidang teknik perawatan dan upgrade alutsista.

Memahami pemikiran Komisi 1, bagi Fayakhun Andriadi anak bangsa Indonesia akan mempunyai kesempatan untuk melakukan bongkar-pasang pesawat-pesawat F-16 tersebut. Meskipun mengerjakan barang bekas, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh anak bangsa tersebut merupakan aset yang sangat berharga dalam perjalanan bangsa ke depan. Jelas itu jauh lebih berguna bila dibandingkan : beli barang bekas, diupgrade oleh produsen langsung, duit terbang ke negara lain, sementara bangsa sendiri tidak pernah diberi kesempatan untuk pintar.

Jadi selain syarat teknologi dan pembiayaan, Komisi I juga memberikan penekanan pada aspek pengerjaan up-grade tersebut. Dalam dua kali pertemuan, menurut Fayakhun Andriadi yaitu Senin (19/09) dan Rabu (21/9) antara pihak Pemerintah dan DPR, kesepakatan belum dicapai. Pihak pemerintah masih akan mengkaji keinginan Komisi I, dan Komisi I juga belum bisa menyetujui kemauan pemerintah. Pihak pemerintah yang hadir dalam pertemuan antara lain Menhan, Wamenhan, Sekjenhan, Panglima TNI, Asrenum  (Asisten Perencanaan Umum) didamping oleh Kasau, Wakasau, dan jajaran Angkatan Udara.

Semoga informasi deskriptif ini bermanfaat bagi masyarakat untuk memberikan masukan yang terbaik untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini.


Senin, 05 Juni 2017

Hasrat Politik Fayakhun Andriadi Terbangun Sejak Usia 17 Tahun

Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, FayakhunAndriadi, melabuhkan dirinya ke Partai Golkar hingga bisa menempati posisinya yang sekarang, adalah merupakan buah dari kontemplasi pribadinya. Meski berasal dari keluarga pendiri Golkar, itu tidak serta merta membuat ia yang lahir dari keluarga pendiri Golkar, melabuhkan pilihan politiknya kepada Partai Golkar.

Hasrat Politik Fayakhun Andriadi Terbangun Sejak Usia 17 Tahun


Ada banyak sekali contoh pasca reformasi, beberapa anak pendiri Partai Golkar malah memilih partai selain Partai Golkar sebagai kendaraan politiknya. Bukan hanya itu, mereka yang tercatat sebagai punggawa Partai Golkar pun mengalihkan kemudi politiknya kepada partai lain atau bahkan mendirikan partai baru. Konstelasi politik yang banyak berubah pasca reformasi telah memberikan pilihan politik yang sangat beragam kepada anak bangsa. Pelabuhan politik tidak lagi sebatas pada Partai Golkar, PDI Perjuangan, ataupun PPP. Ada banyak partai baru bermunculan dan menjanjikan jabatan strategis. Beberapa tokoh politik baru pun dengan cepat bermunculan dari partai-partai baru.

Jika melihat silsilah keluarga, Fayakhun Andriadi merupakan anak dari pendiri Golkar. Ayahnya Ir. Haditirto Djoyodirdjo, adalah pendiri Golkar Jawa Tengah dan juga tokoh Golkar Nasional. Ir. Haditirto menjadi anggota DPR RI tahun 1968 s/d 1987 dan menjadi pimpinan Fraksi Partai Golkar. Tahun 1987 – 1992 menjadi anggota MPR RI dan menjabat Sekretaris Fraksi partai Golkar.

Meski berasal dari keluarga pendiri partai Golkar, Fayakhun tidak serta merta memilih partai Golkar. Ia melakukan kontemplasi yang pada akhirnya menemukan tempat berlabuhnya. Kontemplasi pertama dilakukan pada saat ia memiliki KTP.  Saat itu ia merasa sudah jadi warga negara dewasa. Pada saat bersamaan pula timbul kesadaran politik baru dalam pikirannya, yakni peduli politik atau tidak peduli politik.

“Kalau saya tidak peduli politik, kemudian negeri ini salah urus, bangkrut, dan sejenisnya, saya hanya bisa meratapi,” tutur Fayakhun
Pada titik itu kemudian dia memutuskan untuk peduli politik. Ia merasa sebagai anak muda dan anak bangsa, ia harus peduli politik. Ia tidak mau hanya jadi penonton. Karenanya ia ingin ikut andil. “Jika negara ini salah urus maka saya ikut bertanggung jawab. Tetapi jika Negara ini maju maka saya juga bertanggung jawab,” ujarnya.

Pikiran peduli politik Fayakhun pada waktu umur 17 tahunan  itu masih sebatas dalam konteks kepentingan kebangsaan secara umum. Itu belum mengantarkan dia untuk mencatatkan diri menjadi anggota salah satu partai yang ada pada saat itu.