Rabu, 31 Mei 2017

Shahih Bukhori dan Fayakhun Andriadi

MEMBUMIKAN KEMBALI TRADISI KHATAMAN SHAHIH BUKHARI

menurut Fayakhun Andriadi "bulan rajab untuk menanam, sya'ban untuk menyiram dan ramadhan untuk menyemai"

Shahih Bukhori dan Fayakhun Andriadi

ada yang mengatakan bahwa shahih bukhari tingkatannya paling tinggi diantara kitab hadis lain. tapi ada ulama yang lebih mengunggulkan shahih muslim seperti abu ali an nisaburi, al daruqutni dan muhammad ibnu hazm az zahiri. dalam tradisi keilmuan islam, kritik dan dialektika adalah biasa dan hal trsebut sering melahirkan suasana intelektual makin berkembang.
dalam tradisi pesantren di jawa, khataman shahih bukhari sering diadakan oleh kyai hasyim asy'ari tiap ramadhan. kyai hasyim memang merupakan tokoh yang menguasai ilmu hadis . ketika kyai hasyim membacakan shahih bukhari ini sering dihadiri gurunya yaitu kyai kholil dari bangkalan dan kyai khozin dari panji sidoarjo.
kyai hasyim mendapat pelajaran hadis ini dari syaikh mahfudz at tarmisi, seorang ulama dari termas pacitan yang menjadi guru besar di masjidil haram.
syaikh mahfudz at tarmisi adalah guru para kyai jawa diantaranya kyai kholil, kyai hasyim, kyai wahab hasbulloh tambakberas jombang, kyai munawir krapyak yogyakarta, kyai dalhar watucongol magelang...
syaikh mahfudz termas mendapat sanad hadis dari gurunya yaitu abu bakar bin muhammad shata. inilah guru2 turun temurun yang mengajarkan hadis sampai syaikh mahfudz.
abu bakar muhammad syata
ahmad bin zaini dahlan
utsman bin hasan ad dimyati
muhammad bin ali asy syanwani
isa bin ahmad al barawi
muhammad ad dafri
salim bin abdullah al basri
abdulloh bin salim al basri
muhammad bin alauddin al babili
salim bin muhammad as sanhuri
an najm muhammad bin ahmad al ghaiti
zakaria bin muhammad al anshari
ahmad bin ali bin hajar al asqolani
ibrahim bin ahmad at tanuhi
abu Al abbas ahmad bin thalib
al husein bin al mubarak az zubaidi
abul waqt abdul awwal bin isa as sijzi
abul hasan abdurrahman bin muzaffar bin dawud
abu muhammad abdulloh bin ahmad as sarakhsi
abu abdulloh muhammad bin yusuf al matar
imam al hafiz al hujja
abu abdulloh muhammad bin ismail bin ibrahim al bukharit 
menurut Fayakhun Andriadi khataman shahih bukhari mungkin lebih tepat dimulai bulan rajab sampai akhir ramadhan. maksudnya adalah agar pelajar yang ikut khataman akan lebih mendalami makna puasa, zakat, shalat malam, sejarah, tasawuf, aqidah. setiap hari bisa dialokasikan waktu sekitar 3 jam untuk membaca sekitar 80 hadis dan memberi keterangan tiap babnya.
mungkin kalo dilakukan khataman tiap pesantren akan lebih semarak, apalagi tiap kampung. memasuki akhir ramadhan shahih bukhari bisa selesai dan dilakukan doa bersama dengan ditutup acara sedekah seperti peringatan maulid yang diikuti masyarakat..Fayakhun Andriadi

NKRI Menurut Fayakhun Andriadi

Menurut Fayakahun Andriadi Semula, kata-kata "NKRI Harga Mati" adalah konotatif, merujuk pada rasa militansi membela Indonesia, sentimen nasionalistik tanpa kompromi. Tapi, siapa dapat mengontrol bahasa? Siapa dapat memastikan bahwa kata-kata ini tak berbelok menjadi ungkapan denotatif yang berarti: "Harus ada tumbal nyawa untuk harga sebuah jargon yang kita tak tahu benarkah untuk kepentingan rakyat Indonesia, atau untuk prestise sekelompok elite sipil dan militer untuk menaikkan harga jual Indonesia di dunia internasional?"

NKRI Menurut Fayakahun Andriadi


12 tentara diberitakan terluka parah, 4 mati tragis, setelah insiden meriam Giant Bow, senjata mematikan bikinan Tiongkok yang dapat memuntahkan 2000 peluru dalam semenit, di Natuna kemarin. Aksi ini untuk menyambut Jokowi yang akan meresmikan parade militer itu.
Beberapa bulan lalu, seorang santri di pondok pesantren penulis juga ditabrak mati oleh tentara dalam sebuah aksi parade di Situbondo untuk menyambut presiden.
Apa kebanggaan memamerkan senjata-senjata besar dan mematikan, juga parade berderap yang berisiko makan korban nyawa?

Menurut Fayakahun Andriadi Ini bukan sekadar ritual. Lebih dalam daripada itu, ini fenomena bahwa rezim-rezim kapitalis-neo-pembangunanisme hari ini sedang aktif mempersenjatai diri dan mengglorifikasi budaya kekerasan yang menggeser orientasi pembangunan bukan lagi ke arah kedamaian sejati umat manusia, tapi pembangunan yang berwatak birokratis dan represif.

FAYAKHUN ANDRIADI


Masih berharap rezim ini menjadi pemerintahan Islam moderat, sementara terus membeli senjata-senjata berat dan meningkatkan tensi militernya, sama saja dengan berharap rezim ini menegakkan demokrasi dan perdamaian dengan menebar bom dan peluru. Secara logis, hal itu absurd. Kalau demikian, apa bedanya kita dengan Amerika atau Korea Utara?

Budaya kekerasan ini -- dengan segala unjuk kekuatannya, dan kebanggaan-kebanggaan semu yang dibuatnya, "machoisme" negara Islam moderat -- harus dikritisi.

Menurut Fayakahun Andriadihttp://fayakhun-andriadi.blogspot.co.id/2017/05/Menurut-Fayakhun-Andriadi.html bersolidaritas atas meninggalnya empat tentara itu, korban dari brutalitas unjuk kekuatan militer yang mubazir. Kalau tentara saja dapat menjadi korban maut dari senjata makan tuan, bagaimana dengan petani, wartawan, dan rakyat pada umumnya? Kita layak menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kematian mereka, dan mendesak pemerintah mengakhiri glorifikasi teknologi persenjataan dan unjuk kekuatan militer.