Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, FayakhunAndriadi, melabuhkan dirinya ke Partai Golkar hingga bisa menempati posisinya
yang sekarang, adalah merupakan buah dari kontemplasi pribadinya. Meski berasal
dari keluarga pendiri Golkar, itu tidak serta merta membuat ia yang lahir dari
keluarga pendiri Golkar, melabuhkan pilihan politiknya kepada Partai Golkar.
Ada banyak sekali contoh pasca reformasi,
beberapa anak pendiri Partai Golkar malah memilih partai selain Partai Golkar
sebagai kendaraan politiknya. Bukan hanya itu, mereka yang tercatat sebagai
punggawa Partai Golkar pun mengalihkan kemudi politiknya kepada partai lain
atau bahkan mendirikan partai baru. Konstelasi politik yang banyak berubah
pasca reformasi telah memberikan pilihan politik yang sangat beragam kepada
anak bangsa. Pelabuhan politik tidak lagi sebatas pada Partai Golkar, PDI
Perjuangan, ataupun PPP. Ada banyak partai baru bermunculan dan menjanjikan
jabatan strategis. Beberapa tokoh politik baru pun dengan cepat bermunculan
dari partai-partai baru.
Jika melihat silsilah keluarga, Fayakhun Andriadi
merupakan anak dari pendiri Golkar. Ayahnya Ir. Haditirto Djoyodirdjo, adalah
pendiri Golkar Jawa Tengah dan juga tokoh Golkar Nasional. Ir. Haditirto
menjadi anggota DPR RI tahun 1968 s/d 1987 dan menjadi pimpinan Fraksi Partai
Golkar. Tahun 1987 – 1992 menjadi anggota MPR RI dan menjabat Sekretaris Fraksi
partai Golkar.
Meski berasal dari keluarga pendiri partai
Golkar, Fayakhun tidak serta merta memilih partai Golkar. Ia melakukan
kontemplasi yang pada akhirnya menemukan tempat berlabuhnya. Kontemplasi
pertama dilakukan pada saat ia memiliki KTP. Saat itu ia merasa sudah
jadi warga negara dewasa. Pada saat bersamaan pula timbul kesadaran politik
baru dalam pikirannya, yakni peduli politik atau tidak peduli politik.
“Kalau saya tidak peduli politik, kemudian
negeri ini salah urus, bangkrut, dan sejenisnya, saya hanya bisa meratapi,” tutur
Fayakhun.
Pada titik itu kemudian dia memutuskan untuk
peduli politik. Ia merasa sebagai anak muda dan anak bangsa, ia harus peduli
politik. Ia tidak mau hanya jadi penonton. Karenanya ia ingin ikut andil. “Jika
negara ini salah urus maka saya ikut bertanggung jawab. Tetapi jika Negara ini
maju maka saya juga bertanggung jawab,” ujarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar