Senin, 05 Juni 2017

Hasrat Politik Fayakhun Andriadi Terbangun Sejak Usia 17 Tahun

Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta, FayakhunAndriadi, melabuhkan dirinya ke Partai Golkar hingga bisa menempati posisinya yang sekarang, adalah merupakan buah dari kontemplasi pribadinya. Meski berasal dari keluarga pendiri Golkar, itu tidak serta merta membuat ia yang lahir dari keluarga pendiri Golkar, melabuhkan pilihan politiknya kepada Partai Golkar.

Hasrat Politik Fayakhun Andriadi Terbangun Sejak Usia 17 Tahun


Ada banyak sekali contoh pasca reformasi, beberapa anak pendiri Partai Golkar malah memilih partai selain Partai Golkar sebagai kendaraan politiknya. Bukan hanya itu, mereka yang tercatat sebagai punggawa Partai Golkar pun mengalihkan kemudi politiknya kepada partai lain atau bahkan mendirikan partai baru. Konstelasi politik yang banyak berubah pasca reformasi telah memberikan pilihan politik yang sangat beragam kepada anak bangsa. Pelabuhan politik tidak lagi sebatas pada Partai Golkar, PDI Perjuangan, ataupun PPP. Ada banyak partai baru bermunculan dan menjanjikan jabatan strategis. Beberapa tokoh politik baru pun dengan cepat bermunculan dari partai-partai baru.

Jika melihat silsilah keluarga, Fayakhun Andriadi merupakan anak dari pendiri Golkar. Ayahnya Ir. Haditirto Djoyodirdjo, adalah pendiri Golkar Jawa Tengah dan juga tokoh Golkar Nasional. Ir. Haditirto menjadi anggota DPR RI tahun 1968 s/d 1987 dan menjadi pimpinan Fraksi Partai Golkar. Tahun 1987 – 1992 menjadi anggota MPR RI dan menjabat Sekretaris Fraksi partai Golkar.

Meski berasal dari keluarga pendiri partai Golkar, Fayakhun tidak serta merta memilih partai Golkar. Ia melakukan kontemplasi yang pada akhirnya menemukan tempat berlabuhnya. Kontemplasi pertama dilakukan pada saat ia memiliki KTP.  Saat itu ia merasa sudah jadi warga negara dewasa. Pada saat bersamaan pula timbul kesadaran politik baru dalam pikirannya, yakni peduli politik atau tidak peduli politik.

“Kalau saya tidak peduli politik, kemudian negeri ini salah urus, bangkrut, dan sejenisnya, saya hanya bisa meratapi,” tutur Fayakhun. 
Pada titik itu kemudian dia memutuskan untuk peduli politik. Ia merasa sebagai anak muda dan anak bangsa, ia harus peduli politik. Ia tidak mau hanya jadi penonton. Karenanya ia ingin ikut andil. “Jika negara ini salah urus maka saya ikut bertanggung jawab. Tetapi jika Negara ini maju maka saya juga bertanggung jawab,” ujarnya.

Pikiran peduli politik Fayakhun pada waktu umur 17 tahunan  itu masih sebatas dalam konteks kepentingan kebangsaan secara umum. Itu belum mengantarkan dia untuk mencatatkan diri menjadi anggota salah satu partai yang ada pada saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar