12 tentara diberitakan terluka parah, 4 mati tragis, setelah insiden meriam Giant Bow, senjata mematikan bikinan Tiongkok yang dapat memuntahkan 2000 peluru dalam semenit, di Natuna kemarin. Aksi ini untuk menyambut Jokowi yang akan meresmikan parade militer itu.
Beberapa bulan lalu, seorang santri di pondok pesantren penulis juga ditabrak mati oleh tentara dalam sebuah aksi parade di Situbondo untuk menyambut presiden.
Apa kebanggaan memamerkan senjata-senjata besar dan mematikan, juga parade berderap yang berisiko makan korban nyawa?
Menurut Fayakahun Andriadi Ini bukan sekadar ritual. Lebih dalam daripada itu, ini fenomena bahwa rezim-rezim kapitalis-neo-pembangunanisme hari ini sedang aktif mempersenjatai diri dan mengglorifikasi budaya kekerasan yang menggeser orientasi pembangunan bukan lagi ke arah kedamaian sejati umat manusia, tapi pembangunan yang berwatak birokratis dan represif.
FAYAKHUN ANDRIADI
Masih berharap rezim ini menjadi pemerintahan Islam moderat, sementara terus membeli senjata-senjata berat dan meningkatkan tensi militernya, sama saja dengan berharap rezim ini menegakkan demokrasi dan perdamaian dengan menebar bom dan peluru. Secara logis, hal itu absurd. Kalau demikian, apa bedanya kita dengan Amerika atau Korea Utara?
Budaya kekerasan ini -- dengan segala unjuk kekuatannya, dan kebanggaan-kebanggaan semu yang dibuatnya, "machoisme" negara Islam moderat -- harus dikritisi.
Menurut Fayakahun Andriadihttp://fayakhun-andriadi.blogspot.co.id/2017/05/Menurut-Fayakhun-Andriadi.html bersolidaritas atas meninggalnya empat tentara itu, korban dari brutalitas unjuk kekuatan militer yang mubazir. Kalau tentara saja dapat menjadi korban maut dari senjata makan tuan, bagaimana dengan petani, wartawan, dan rakyat pada umumnya? Kita layak menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kematian mereka, dan mendesak pemerintah mengakhiri glorifikasi teknologi persenjataan dan unjuk kekuatan militer.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar